Pelajaran selanjutnya adalah PLH alias
Pendidikan Lingkungan Hidup. Gurunya bernama Pak Edy. Gak seperti biasanya,
hari ini Pak Edi terlihat sensitif sekali. Masuk kelas dengan marah-marah dan
dengan nada yang sangat ketus. Tiba-tiba salah satu dari kami ada yang disuruh
maju ke depan untuk membacakan tulisan yang ada dibuku. Memang tidak seperti
biasanya. Singkat cerita, ada sesuatu yang lucu dan secara alamiah saya pun
ikut tertawa bersama teman-teman lainnya. Tapi tiba-tiba Pak Edy menunjuk saya,
“heh, kamu! Kok ketawanya geli banget? Sini
maju!” kata Pak Edy
“Siapa pak? Saya?”, saya pun maju ke depan
kelas.
“nih baca yang halaman 42, yang keras!”
minta Pak Edy.
Saya pun membacakan halaman yang Pak Edy
minta dengan keras.
“kedengaran
gak anak-anak??” Tanya Pak Edy.
“Enggaaakkkk
pakkkk!!” jawab anak-anak dengan lantang.
“Nah!
Bacanya yang keras makanya!! Coba ulangi sekali lagi!” pinta Pak Edy.
Bagaimana toh pak, suara saya sudah besar
begini juga volumenya, saya bergumam dalam hati. Lalu saya pun mengulanginya
kembali. Setelah selesai membaca dengan kondisi saya yang masih berdiri di
depan kelas, saya ditanya mengenai apa yang saya baca itu tapi tidak ada satu
pun yang bisa saya jawab dari pertanyaan Pak Edy. Itu semua pertanyaannya aneh
sekali, orang belum dijelaskan sama bapaknya sama sekali tapi sudah ditanyakan
ke saya. Alhasil, saya pun kena marah Pak Edy.
“Nurul!
Gimana sih kamu, pertanyaan seperti itu saja tidak bisa jawab! Malu-maluin ipa
1 kamu!” kata Pak Edy.
“…”
Saya hanya terdiam saja.
“Sana
kamu berdiri ditengah-tengah menghadap ke teman kamu dan meminta maaf karena
telah malu-maluin kelas kamu sendiri!” suruh Pak Edy.
“Maaf
ya teman-teman, saya udah bikin malu kelas ini” saya meminta maaf.
“dimaafin
gak anak-anak??” Tanya Pak Edy.
“dimaafin
pakkkk!!” jawab anak-anak serentak.
“sekarang
bapak mau tanya, kamu udah punya pacar ya??” tanya Pak Edy kepo
“Sudah
pakkkk….” Anak-anak yang menjawab
“lah,
siapa pacar gue? Yang ditanya siapa, yang jawab siapa?” saya bingung kenapa Pak
Edy malah nanya hal seperti itu.
“yaudah,
sekarang Nurul ngaku aja, siapa cowok dikelas yang Nurul benci dan yang Nurul
suka?” Pak Edy tambah kepo.
Ini
guru aneh banget sih. Kenapa nanya-nanya hal beginian? Loh kok anak-anak pada
ngerekam gue sih. Omaigat ini mah gue dikerjain. Yakin gue.
Dan Pak Edy masih nanya hal-hal mengenai
gue selanjutnya. Next part…



0 komentar:
Posting Komentar