Minggu, 29 Maret 2015 - Saya bersama keempat teman lainnya berniat mendaki gunung di atas awan. Kami bermalam di Desa Batur, tepatnya disalah satu rumah warga lokal namanya Pak Hanafi. Kami berangkat dari rumah Pak Hanafi sekitar jam 8 pagi. Kami sarapan terlebih dahulu, kemudian melanjutkan perjalanan menuju basecamp Patak Banteng menggunakan mobil elf. Sampai di basecamp sekitar jam 10 pagi. Selanjutnya kami langsung summit attack menuju puncak, start tracking dari patak banteng. Track yang cukup curam dan terjal tapi lumayan dekat. Waktu tracking tercepat sampai puncak hanya 2 jam, sedangkan paling lama 3 jam. Detik-detik menuju puncak hujam deras membasahi jalan setapak. Untungnya track yang akan kami lalui tidak terlalu licin ketika hujan selesai. Sampai dipuncak sekitar jam 1 siang dan hujan pun turun kembali dengan derasnya. Kabut tebal menyelimuti puncak gunung. Jarak pandang kami mungkin hanya 30 cm waktu kabut datang. Pada saat dipuncak pun, hanya ada 2-3 tenda yang berdiri dan hanya dihuni oleh beberapa orang saja. Bisa dikatakan, sampai dipuncak sepii bangetttt hehe
Bisa dibilang kami ini pendaki amatiran, pendaki nekat. Kami naik gunung itu tanpa persiapan apapun. Tidak membawa sesuatu apapun kecuali air mineral 1,5 L untuk berlima dan jas hujan kresek 3 buah. Kacau memang kacau sekali. Tapi ini akan menjadi pengalaman kami yang paling nekat untuk terakhir kalinya. Sesampainya dipuncak, Kami hanya beristirahat selama 1 jam. Sekitar jam 2, kami turun kembali sebelum cuaca gelap menyelimuti gunung itu. Kami turun melewati jalur yang berbeda. Kami turun lewat jalur dieng. Jalur ini lebih jauh dan lebih lama dari jalur patak banteng karena jalurnya lebih landai. Mengingat cuaca turun hujan, kami memutuskan untuk melewati jalur landai. karena jalur patak banteng akan sangat licin apabila hujan datang.
Jalur patak banteng maupun jalur dieng, tidak ada yang kami ketahui satu pun jalurnya. Hanya saja waktu pendakian menuju puncak melalui patak banteng, kami ada barengannya jadi tidak salah jalur dan memang jalurnya tidak ada pertigaan atau cabang-cabang lainnya. Pada saat turun gunung melalui jalur dieng, kami tidak ada barengannya. Hanya rombongan kami yang langsung turun melalui jalur ini. Perasaan bingung, khawatir dan lain-lain bercampur jadi satu. Dengan sebuah keberanian dan kepercayaan antar teman dan kepada sang pencipta, kami pun meraba-raba jalan keluar. Selama jalur hanya ada satu jalan, kami percaya diri dan merasa aman kalau kami pasti akan sampai bawah dengan jalur yang benar. Akan tetapi, jalan tak selamanya lurus, beberapa kali kami menemukan jalan bercabang. Entah jalan mana yang akan kami pilih, entah yang kanan atau yang kiri, entah yang turun atau naik, kami hanya bisa berdoa untuk jalan yang kami pilih adalah jalan yang benar. Pertolongan Allah memang benar dan datang dari mana saja dan siapa saja. Ketika kami dihadapkan dengan jalan bercabang, datang seekor burung jalak yang memberikan petunjuk jalan kepada kami. Entah para pembaca percaya atau tidak, tapi itulah yang kami rasakan. Betapa besar pertolongan Mu ya Rabb. Jika tidak ada burung itu mungkin saya tidak bisa memposting cerita saya di blog ini. Mungkin para pembaca bingung, bagaimana caranya burung itu menunjukan jalannya? saya hanya memohon pada sang pemilik burung dan pemilik gunung untuk menunjukan jalan yang benar. lalu dikirimlah burung itu kepada kami. saya bertanya, wahai burung, jalan manakah yang harus kami lalui menuju kaki gunung ini? dan burung itu pun berjalan di depan kami menunjukan jalannya. sessekali burung itu terbang dan bersuara tiada henti, untuk memberi kode kepada kami kalau jalan yang kami lalui sudah benar dan tak perlu dikhawatirkan. Satu catatan untuk gunung ini, selama saya mendaki dari patak banteng dan dieng, tidak ada sumber mata air satu pun, maka dari itu persiapkan air sebanyak mungkin dan secukupnya.
Ketika kami sudah hampir sampai dibawah kaki gunung, ada suara motor, mobil orang dan tanda-tanda kehidupan lainnya kami sudah sangat senang sekali. Rasanya kami habis tersesat dihutan dan tidak menemukan kehidupan sehari-hari. lebay dalam kesedihan yang diselimuti kesenangan hahaha
Alhamdulillah kami tiba di bawah sekitar jam 5 sore. Kami langsung menuju masjid untuk sholat dzuhur dan ashar serta bersih-bersih diri. Celana kami kotor semua, rumah kami pun masih jauh. tidak ada yang bawa pakaian ganti, dan akhirnya saya dan teman saya menggunakan mukena sampai ke rumah hahaha :D Selama perjalanan turun ke bawah, pikiran kami sudah kemana-kemana memikirkan pendaki yang hilang, pendaki yang tersesat, pendaki yang kehabisan logistik, pendaki hipotermia dan lain sebagainya. Alhamdulillah itu semua tidak menjadi gelar kami setelah naik gunung ini.
Buat para pendaki pemula lainnya, jangan pernah tiru adegan ini. Kalau gak kuat, mungkin nasibnya bisa lebih buruk dari kami. Gunung bukan untuk dicoba tanpa persiapan matang. jangan pernah meremehkan alam, karena alam belum bersahabat dengan kita. Bersahabatlah dengan sang pencipta alam semesta ini, maka alam akan bersahabat dengan siapa saja yang mendekatkan diri pada Sang pencipta. Buat para pendaki muslim, walaupun kalian berada di gunung, tetaplah kalian melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya. laksanakanlah kewajiban kalian yang 5 waktu, maka kalian akan selalu berada dalam lindunganNya. Allah akan menjaga orang-orang yang dekat denganNya.
Dokumentasi ini hanya beberapa dari foto-foto yang ada. dikarenakan kapasitas filenya agak besar jadi tidak bisa diupload semua hehe





0 komentar:
Posting Komentar