Jumat, 03 April 2015

Yuk berbagi pengalaman backpacker kalian ...

Minggu kemarin tepatnya hari jumat, 27 Maret 2015 saya bersama 4 teman saya lainnya, yaitu icha, pipin, asan dan didik memulai petualangan kita berawal dari stasiun pasar senen. Kami berangkat menggunakan kereta Gaya Baru malam berangkat pukul 10.42 WIB. Sampai di stasiun Purwokerto pukul 16.00 WIB. Sampai di stasiun, kami sholat ashar terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan ke wonosobo. Dari stasiun purwokerto, kami harus singgah terlebi dahulu ke terminal purwokerto untuk mendapatkan bis ke wonosobo. Waktu sudah semakin gelap. Angkutan menuju terminal pun sudah mulai tidak terlihat. Harapan kami hampir sirna. Taksi dan ojek yang terus menawarkan jasanya pada kami hampir kami terima. Tak lama kemudian, angkot tujuan terminal pun tiba. Dengan wajah senang, kami langsung bernegosiasi dengan pak supir dan langsung deal dengan harga yang cukup murah. Sesampainya kami di terminal purwokerto, masih terjadi tawar-menawar dengan calo bis menuju wonosobo. Berhubung hari sudah semakin malam dan perjalanan ke wonosobo memakan waktu 3 jam, akhirnya kami menyetujui harga yang ditawarkan karena masih dalam hitungan budget kami.

3 jam kemudian...
Tibalah kami di Alun-alun kota Wonosobo pukul 21.00 WIB. Hampir 1 jam lamanya kita terlunta-lunta di alun-alun karena sudah tidak ada angkutan menuju dieng. Tidak sedikit ojek, taksi dan penyewaan mobil menawarkan bantuannya kepada kami dengan harga yang cukup tinggi. Hati kami pun tidak goyah, tetap pada naluri backpacker kami. Kami memutuskan untuk jalan sedikit dari alun-alun. Kami menemukan mobil pick up yang sepertinya akan mengantarkan barang dagangannya melewati Dieng. Asan dan Icha pun menghampirinya dan bertanya-tanya. Sedangkan saya, pipin dan didik menjaga barang-barang kami. Di ibu kota Jakarta, jam 9 malam bukanlah daerah yang sepi. Namun di Jawa tengah tepatnya Wonosobo, jam 9 malam merupakan sudah menjadi kota mati. Tak ada tanda-tanda kehidupan disana. Sunyi, sepi.. itulah yang kami rasakan. Setelah Icha dan Asan bernegosiasi dengan supir pick up, dan akhirnya kami diijinkan untuk menumpang mobil tersebut sampai ke Dieng dan dicarikan tempat penginapan murah oleh pak supir (pak Hanafi) dan istrinya. Kami tiba di Dieng jam 11 malam. Kami langsung mencari penginapan, dan yang kosong serta paling murah hanya di penginapan Puspa dengan harga 100rb/malam/kamar dengan kamar mandi diluar + air hangat. Kami menyewa 2 kamar untuk kamar cewek dan cowok. Tiba dikamar masing-masing kami langsung rebahan dan bersih-bersih. Dan waktu sudah menunjukan pukul 23.30 WIB. Lanjut ke hari berikutnya, kami istirahat …. Sedangkan Asan, masih bernegosiasi karena pihak penginapan menawarkan paket jalan-jalan Dieng 1 seharian. Fasilitasnya meliputi mobil carry + supir + Wisata Dieng 1 dengan harga 250ribu sudah bersih. Sebelum tidur, Asan berdiskusi dengan kami, dan kami semua setuju karena masih dalam hitungan dibawah budget kami. Dan kami pun langsung deal dengan sang pemilik penginapan. Oiya, catatan besar, penginapan yang kami tempatkan saat ini, hanya semalam saja karena penginapan ini sudah dibooking sebelumnya untuk esok hari. Maka kami pun harus pindah penginapan untuk malam-malam selanjutnya.


Sabtu, 28 Maret 2015 – petualangan akan dimulaiii….
Tengtingtongtingtongtingtong .. alarm handphone sudah bunyi, tandanya kita bangunn… jam menunjukan pukul 03.30 WIB. Siap-siap, rapih-rapih untuk berpetualang hari ini. Wisata pertama yang akan kami kunjungi adalah “sunrise bukit sikunir”. Kami berangkat dari penginapan sekitar jam 4 lewat pagi. Dengan mata yang masih ngantuk dan hawa dingin yang menusuk tubuh, demi sunrise kami pun bangun dan sholat subuh di Sikunir. Sampai di bukit sikunir, sudah banyak orang yang ingin melihat sunrise, ada yang sendirian, berdua, bertiga dan segerombolan orang-orang dari berbagai daerah. Untuk mencapai puncak bukit sikunir, kami harus melawati jalan setapak menanjak yang tingginya sekitar 800 meter. Untuk melihat sunrise pun ada HTM nya cuma saya lupa berapa. hehe






Setelah lihat sunrise dari bukit sikunir, kami memutuskan untuk pergi ke telaga warna. Namun sebelumnya, kami sarapan terlebih dahulu di tempat peginapan. Harga sarapan di tempat penginapan sama saja dengan harga sarapan di Jakarta. Selesai sarapan, kami langsung cus ke Dieng Theater Plateau. Disini kita bisa liat Telaga warna dan Telaga pengilon dari atas tebing. Untuk wisata ini dikenakan HTM 10ribu/org. Untuk mencapai atas tebing, kami berjalan kaki tapi tidak terlalu jauh dari tempat parkir.



Selanjutnya Kawah Sikidang… Catatan buat yang mau kesini, jangan lupa bawa masker soal’e bau belerangnya nyengat sekaliii.. Disini ada yang jual belerang asli loh. Katanya belerang itu bisa buat obat kan? Di kawah sikidang tidak hanya objek wisata alam, melainkan bisa disebut sebagai wisata kuliner. Karena di kawah sikidang, banyak kuliner-kuliner khas dieng dan sekitarnya. Selain itu, di kawah sikidang pun bisa merebus telur sampai matang. Mungkin karena saking panasnyajadi bisa buat masak. Hehe. Untuk masuk wisata ini, dikenakan biaya HTM 10rb/org. Menurut informasi dari guide kami, kawah sikidang ini waktu hari raya nyepi, digunakan oleh masyarakat bali untuk menggelar acara nyepi. Dimana seekor sapi dimasukan ke dalam kawah dan tidak dikeluarkan lagi. Sapi merupakan hewan suci yang terdapat di Bali. Mungkin pada saat hari raya nyepi, Dieng penuh dengan orang-orang Bali.




Next kami menuju wisata telaga dari dekat, dimana didalamnya terdapat telaga warna, telaga pengilon, goa-goa dan lain-lain. Untuk masuk kesini, dikenakan biaya 7500/org. Tempat wisata yang satu ini banyak sejarah dan hal berbau mistis terutama dalam goa. Herannya, goa di tempat ini memiliki pintu masuk dan pintu keluar yang sangat kecil. Dimana jika ada orang yang melewati goa tersebut, mustahil rasanya jika dilewati sambil berdiri tegak. Semua goa yang ada disini dikunci rapat, tidak sembarang orang dapat masuk ke dalamnya. Selain itu, tiap-tiap goa memiliki juru kunci masing-masing. Goa ini dibuka ketika umat hindu dari Bali merayakan hari raya Nyepi.




Destinasi terakhir dihari ini adalah candi-candi. Sebelumnya kami makan siang dulu sambil nunggu hujan reda dan sekalian mau packing dari penginapan yang cuma semalem ini. Kami berangkat lagi menuju candi sekitar pukul 13.30 WIB. Dan diantar dengan supir pribadi kami hehe sebut saja guide local. Dilokasi ini terdapat berbagai macam candi, seperti candi arjuna, dan kawan-kawannya. Sesampainya kami disini, disambut dengan kabut tebal yang menandakan hujan akan turun. Untuk masuk ke lokasi ini, tak perlu bayar HTM lagi karena sudah tembusan tiket masuk dari kawah sikidang. Jadi, tiket kawah sikidangnya jangan dibuang dulu ya gaess. Kami disini menghabiskan waktu sampai tiba waktu ashar dan setelah itu hujan pun turun dengan derasnya dan hawa dingin pun mulai menyerang sampai suhunya di bawah 10 derajat celcius. Selesai dari candi, kami siap menuju tempat oleh-oleh buat orang-orang tercinta.. hehe



Petualangan hari ini selesaii.. saatnya kembali ke pengiapan. Opss.. mau nginep dimana kami malam ini? Penginapan yang semalem udah habis. Dan kami pun terlunta-lunta di alun-alun dieng sambil selfie-selfie.




Terlintas dipikiran kami untuk menginap di rumah salah satu warga yang telah mengantarkan kami dari wonosobo ke dieng. Yap.. pak Hanafi adalah rumah yang kami tuju. Kami menghubungi bapaknya dan bapaknya langsung mengiyakan kami untuk menginap dirumahnya selama 2 hari 2 malam. Rumah pak hanafi agak jauh dari dieng, tepatnya terletak 11 KM setelah dieng. Kami kesana menggunakan angkutan umum yang ketika sudah lewat maghrib, angkotnya sudah tak beroperasi lagi. Maka setelah selesai berselfie-selfie ria dan angkotnya lewat depan kami, kami langsung naik dan menuju Batur ke lokasi rumah pak Hanafi. Sesampainya di rumah pak hanafi, keluarga pak Hanafi menerima kami dengan senang hati dan telah disiapkan 1 kamar tidur untuk kami semua. Sesampainya kami di rumah pak Hanafi, kami bersih-bersih, istirahat dan bersenda gurau. Pak Hanafi memiliki 1 orang istri dan 3 orang anak yang masih kecil-kecil. Sehingga anak-anaknya sangat akrab dengan kami. Hari sudah semakin malam, dan kami pun bergegas untuk istirahat. Karena keesokan harinya kami akan mendaki santai gunung prau.

0 komentar:

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!