Yuk berbagi pengalaman backpacker kalian ...
Minggu kemarin tepatnya hari jumat, 27
Maret 2015 saya bersama 4 teman saya lainnya, yaitu icha, pipin, asan dan didik
memulai petualangan kita berawal dari stasiun pasar senen. Kami berangkat
menggunakan kereta Gaya Baru malam berangkat pukul 10.42 WIB. Sampai di stasiun
Purwokerto pukul 16.00 WIB. Sampai di stasiun, kami sholat ashar terlebih
dahulu sebelum melanjutkan perjalanan ke wonosobo. Dari stasiun purwokerto,
kami harus singgah terlebi dahulu ke terminal purwokerto untuk mendapatkan bis
ke wonosobo. Waktu sudah semakin gelap. Angkutan menuju terminal pun sudah
mulai tidak terlihat. Harapan kami hampir sirna. Taksi dan ojek yang terus
menawarkan jasanya pada kami hampir kami terima. Tak lama kemudian, angkot
tujuan terminal pun tiba. Dengan wajah senang, kami langsung bernegosiasi
dengan pak supir dan langsung deal dengan harga yang cukup murah. Sesampainya
kami di terminal purwokerto, masih terjadi tawar-menawar dengan calo bis menuju
wonosobo. Berhubung hari sudah semakin malam dan perjalanan ke wonosobo memakan
waktu 3 jam, akhirnya kami menyetujui harga yang ditawarkan karena masih dalam
hitungan budget kami.
3 jam kemudian...
Tibalah kami di Alun-alun kota Wonosobo
pukul 21.00 WIB. Hampir 1 jam lamanya kita terlunta-lunta di alun-alun karena
sudah tidak ada angkutan menuju dieng. Tidak sedikit ojek, taksi dan penyewaan
mobil menawarkan bantuannya kepada kami dengan harga yang cukup tinggi. Hati
kami pun tidak goyah, tetap pada naluri backpacker kami. Kami memutuskan untuk
jalan sedikit dari alun-alun. Kami menemukan mobil pick up yang sepertinya akan
mengantarkan barang dagangannya melewati Dieng. Asan dan Icha pun
menghampirinya dan bertanya-tanya. Sedangkan saya, pipin dan didik menjaga
barang-barang kami. Di ibu kota Jakarta, jam 9 malam bukanlah daerah yang sepi.
Namun di Jawa tengah tepatnya Wonosobo, jam 9 malam merupakan sudah menjadi
kota mati. Tak ada tanda-tanda kehidupan disana. Sunyi, sepi.. itulah yang kami
rasakan. Setelah Icha dan Asan bernegosiasi dengan supir pick up, dan akhirnya
kami diijinkan untuk menumpang mobil tersebut sampai ke Dieng dan dicarikan
tempat penginapan murah oleh pak supir (pak Hanafi) dan istrinya. Kami tiba di
Dieng jam 11 malam. Kami langsung mencari penginapan, dan yang kosong serta
paling murah hanya di penginapan Puspa dengan harga 100rb/malam/kamar dengan
kamar mandi diluar + air hangat. Kami menyewa 2 kamar untuk kamar cewek dan
cowok. Tiba dikamar masing-masing kami langsung rebahan dan bersih-bersih. Dan waktu
sudah menunjukan pukul 23.30 WIB. Lanjut ke hari berikutnya, kami istirahat …. Sedangkan
Asan, masih bernegosiasi karena pihak penginapan menawarkan paket jalan-jalan
Dieng 1 seharian. Fasilitasnya meliputi mobil carry + supir + Wisata Dieng 1
dengan harga 250ribu sudah bersih. Sebelum tidur, Asan berdiskusi dengan kami,
dan kami semua setuju karena masih dalam hitungan dibawah budget kami. Dan kami
pun langsung deal dengan sang pemilik penginapan. Oiya, catatan besar,
penginapan yang kami tempatkan saat ini, hanya semalam saja karena penginapan
ini sudah dibooking sebelumnya untuk esok hari. Maka kami pun harus pindah
penginapan untuk malam-malam selanjutnya.
Sabtu,
28 Maret 2015 – petualangan akan dimulaiii….
Tengtingtongtingtongtingtong
.. alarm handphone sudah bunyi, tandanya kita bangunn… jam menunjukan pukul
03.30 WIB. Siap-siap, rapih-rapih untuk berpetualang hari ini. Wisata pertama
yang akan kami kunjungi adalah “sunrise bukit sikunir”. Kami berangkat dari
penginapan sekitar jam 4 lewat pagi. Dengan mata yang masih ngantuk dan hawa
dingin yang menusuk tubuh, demi sunrise kami pun bangun dan sholat subuh di
Sikunir. Sampai di bukit sikunir, sudah banyak orang yang ingin melihat
sunrise, ada yang sendirian, berdua, bertiga dan segerombolan orang-orang dari
berbagai daerah. Untuk mencapai puncak bukit sikunir, kami harus melawati jalan
setapak menanjak yang tingginya sekitar 800 meter. Untuk melihat sunrise pun
ada HTM nya cuma saya lupa berapa. hehe
Setelah
lihat sunrise dari bukit sikunir, kami memutuskan untuk pergi ke telaga warna. Namun
sebelumnya, kami sarapan terlebih dahulu di tempat peginapan. Harga sarapan di
tempat penginapan sama saja dengan harga sarapan di Jakarta. Selesai sarapan,
kami langsung cus ke Dieng Theater Plateau. Disini kita bisa liat Telaga warna
dan Telaga pengilon dari atas tebing. Untuk wisata ini dikenakan HTM
10ribu/org. Untuk mencapai atas tebing, kami berjalan kaki tapi tidak terlalu
jauh dari tempat parkir.
Selanjutnya
Kawah Sikidang… Catatan buat yang mau kesini, jangan lupa bawa masker soal’e
bau belerangnya nyengat sekaliii.. Disini ada yang jual belerang asli loh. Katanya
belerang itu bisa buat obat kan? Di kawah sikidang tidak hanya objek wisata
alam, melainkan bisa disebut sebagai wisata kuliner. Karena di kawah sikidang,
banyak kuliner-kuliner khas dieng dan sekitarnya. Selain itu, di kawah sikidang
pun bisa merebus telur sampai matang. Mungkin karena saking panasnyajadi bisa
buat masak. Hehe. Untuk masuk wisata ini, dikenakan biaya HTM 10rb/org. Menurut
informasi dari guide kami, kawah sikidang ini waktu hari raya nyepi, digunakan
oleh masyarakat bali untuk menggelar acara nyepi. Dimana seekor sapi dimasukan
ke dalam kawah dan tidak dikeluarkan lagi. Sapi merupakan hewan suci yang
terdapat di Bali. Mungkin pada saat hari raya nyepi, Dieng penuh dengan
orang-orang Bali.
Next
kami menuju wisata telaga dari dekat, dimana didalamnya terdapat telaga warna, telaga
pengilon, goa-goa dan lain-lain. Untuk masuk kesini, dikenakan biaya 7500/org.
Tempat wisata yang satu ini banyak sejarah dan hal berbau mistis terutama dalam
goa. Herannya, goa di tempat ini memiliki pintu masuk dan pintu keluar yang
sangat kecil. Dimana jika ada orang yang melewati goa tersebut, mustahil
rasanya jika dilewati sambil berdiri tegak. Semua goa yang ada disini dikunci
rapat, tidak sembarang orang dapat masuk ke dalamnya. Selain itu, tiap-tiap goa
memiliki juru kunci masing-masing. Goa ini dibuka ketika umat hindu dari Bali
merayakan hari raya Nyepi.
Destinasi
terakhir dihari ini adalah candi-candi. Sebelumnya kami makan siang dulu sambil
nunggu hujan reda dan sekalian mau packing dari penginapan yang cuma semalem
ini. Kami berangkat lagi menuju candi sekitar pukul 13.30 WIB. Dan diantar
dengan supir pribadi kami hehe sebut saja guide local. Dilokasi ini terdapat
berbagai macam candi, seperti candi arjuna, dan kawan-kawannya. Sesampainya kami
disini, disambut dengan kabut tebal yang menandakan hujan akan turun. Untuk masuk
ke lokasi ini, tak perlu bayar HTM lagi karena sudah tembusan tiket masuk dari
kawah sikidang. Jadi, tiket kawah sikidangnya jangan dibuang dulu ya gaess. Kami
disini menghabiskan waktu sampai tiba waktu ashar dan setelah itu hujan pun
turun dengan derasnya dan hawa dingin pun mulai menyerang sampai suhunya di
bawah 10 derajat celcius. Selesai dari candi, kami siap menuju tempat oleh-oleh
buat orang-orang tercinta.. hehe
Petualangan
hari ini selesaii.. saatnya kembali ke pengiapan. Opss.. mau nginep dimana kami
malam ini? Penginapan yang semalem udah habis. Dan kami pun terlunta-lunta di
alun-alun dieng sambil selfie-selfie.
Terlintas
dipikiran kami untuk menginap di rumah salah satu warga yang telah mengantarkan
kami dari wonosobo ke dieng. Yap.. pak Hanafi adalah rumah yang kami tuju. Kami
menghubungi bapaknya dan bapaknya langsung mengiyakan kami untuk menginap
dirumahnya selama 2 hari 2 malam. Rumah pak hanafi agak jauh dari dieng,
tepatnya terletak 11 KM setelah dieng. Kami kesana menggunakan angkutan umum
yang ketika sudah lewat maghrib, angkotnya sudah tak beroperasi lagi. Maka setelah
selesai berselfie-selfie ria dan angkotnya lewat depan kami, kami langsung naik
dan menuju Batur ke lokasi rumah pak Hanafi. Sesampainya di rumah pak hanafi,
keluarga pak Hanafi menerima kami dengan senang hati dan telah disiapkan 1
kamar tidur untuk kami semua. Sesampainya kami di rumah pak Hanafi, kami
bersih-bersih, istirahat dan bersenda gurau. Pak Hanafi memiliki 1 orang istri
dan 3 orang anak yang masih kecil-kecil. Sehingga anak-anaknya sangat akrab dengan
kami. Hari sudah semakin malam, dan kami pun bergegas untuk istirahat. Karena keesokan
harinya kami akan mendaki santai gunung prau.








0 komentar:
Posting Komentar